Rabu, 30 Januari 2013

Kacapi Suling

Kacapi Suling
Kacapi Suling
Sudah lebih dari 2 (dua) tahun aku berada ditempat ini. Tempat yang menurutku mempunyai suasana yang sangat berbading terbalik dengan tempat tinggalku sebelumnya, Bandung. Tempat ini begitu tenang dengan suasana khas perkampungan, bahkan terkadang aku merasa tempat ini terlalu tenang untukku.

Rupanya, suasana tenang khas perkampungan ini sanggup membawa beberapa perubahan pada diriku, baik dari sisi pola pikir ataupun selera, termasuk selera musikku.

Musik Kacapi Suling yang merupakan musik tradisional khas Parahyangan atau Tatar Sunda ini kerap menemani waktuku dalam menikmati alunan musik. Dan kini, Kacapi Suling juga sudah menjadi musik yang wajib tersimpan  dalam kartu memory handphone-ku, sehingga aku bisa mendengarkannya kapan saja. 

#selama hape gak lobet

Entah kenapa, ada perasaan yang begitu tenang saat mendengarkan alunan musik yang mempergunakan  Laras Salendro, Laras Pelog, atau Laras Sorog ini. "Tiis ceuli herang panon"...begitulah kalau orang Sunda bilang.

Bila ditelusuri lebih lanjut, Kacapi Suling merupakan jenis musik khas dari Tatar Sunda yang mempergunakan Perangkat Waditra Sunda, yaitu Kacapi dan Suling sebagai alat musik utamanya. Kacapi (Kecapi) adalah alat musik petik sunda yang menjadi salah satu alat musik utama sebagai pengiring musik sunda. Bila dilihat dari bentuknya, ada 2 (dua) jenis Kacapi Sunda yang biasa dipakai. Yaitu, Kacapi Parahu dan Kacapi siter. Sedangkan menurut fungsinya, Kacapi juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu Kacapi Indung dan Kacapi Rincik. Ada yang menarik dari sejarah asal muasal nama Kacapi pada pada alat musik ini. Konon katanya, nama Kacapi diambil dari nama Pohon Sentul (dalam bahasa Sunda) atau Pohon Kecapi (dalam bahasa Indonesia), ini karena dahulu kayu Pohon Sentul/Kecapi inilah yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan alat musik Kacapi ini.

Adapun Suling Sunda merupakan alat musik tiup yang terbuat dari jenis Awi/Bambu kecil, berkulit tipis dan berongga besar, dengan struktur yang terdiri dari sumber (lubang tiup yang terdapat pada bagian atas), suliwer (tali yang melingkat/mengikat sumber), dan beberapa lubang yang berfungsi untuk mengendalikan nada saat ditiup.

Jenis Awi/Bambu yang sesuai dengan karakteristik tersebut adalah Bambu Tamiang, Bambu Buluh dan Bambu Iraten. Akan tetapi diantara ketiga jenis bambu tersebut, bambu yang paling baik sebagai bahan dasar Suling adalah Bambu Tamiang, karena memiliki kulit yang lebih tipis dengan ruas yang panjang. Sedangkan Bambu Buluh dan Iraten lebih tebal dengan ruas batang yang cenderung pendek, sehingga bambu ini seringkali hanya dijadikan bahan baku alternatif. 

Sedangkan Suliwer (tali ikat) seringkali menggunakan Rotan Cacing sebagai bahan bakunya.Bahan ini lebih dipilih karena alasan teksturnya yang tipis dan mudah dibentuk sehingga sangat cocok sebagai bahan tali. Selain itu, rotan ini juga tahan terhadap air liur sehingga bahan ini tidak akan mudah lapuk. Sayang di daerahku tidak terdapat rotan jenis ini, sehingga aku tidak bisa melihat tanaman rotan jenis ini secara langsung.

Kacapi Suling ini biasa dibawakan secara instrumental ataupun dibawakan nntuk mengiringi sang Juru Kawih (Penyanyi/Sinden). Tapi aku sendiri lebih sering mendengarkan Kacapi Suling yang dibawakan secara instrumental.

Karena ketertarikanku pada musik Kacapi Suling ini,  sampai-sampai seringkali aku betah berlama-lama saat berada di rumah makan sunda atau bahkan dalam acara hajatan yang memakai adat Sunda dengan Kacapi Suling sebagai musik pengiringnya. Ya, musik ini memang kerap digunakan sebagai pengiring acara-acara tradisional khas Sunda, seperti Ngaras, Sunatan, Siraman Pengantin dan lain-lain. 

Menurut sumber yang aku dapatkan, pada dasarnya Kacapi Suling merupakan bagian dari mamaos. 

Berikut adalah informasi yang aku kutip dari  www.palingindonesia.com
"Mamaos sendiri terbentuk pada masa pemerintahan Bupati Cianjur tahun 1834-1864 bernama R.A.A Kusumaningrat. Beliau seringkali membuat lagu di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karnea itu masyarakat mengenalnya dengan sebutan Kanjeng Pancaniti.
Mamaos sendiri biasa dilakukan oleh para kaum pria yang kemudian pada perempatan abad ke-20, kaum wanita pun turut serta dalam kebudayaan tersebut. Bahan mamaos sendiri berasal dari beragam seni suara Sunda seperti pantun, beluk, degng dan beberapa tembang macapat Jawa.
Kesenian mamaos mulai berkembang pada masa pemerintahan Bupati R.A.A Prawirediredja II tahun 1864-1910. Sejak itu pula kesenian kecapi suling juga berkembang mengingat kecapi suling digunakan sebagai pengiring kesenian mamaos."
Alhamdulillah, karena ketertarikanku pada musik ini, akupun menjadi tertarik untuk lebih menelisiknya lebih lanjut. Dan sedikit-banyaknya, akhirnya aku mendapat beberapa pengetahuan baru tentang budaya daerahku sendiri.

Berikut aku sematkan video musik Kacapi Suling yang menjadi salah satu dari beberapa lagu Favoritku, yang berjudul "Alam Priangan".  

Wilujeng ngadangukeun.



Cigahna lamun bari ngahuleng di sisi sawah, dibaturan ku Nyi Iteung anu nganteuran cikopi jeung beuleum sampeu atawa beuleum hui cilembu. Halaaaaah...durang-duraring, gan. :D

Hatur nuhun. :)

Sumber:
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
http://www.youtube.com
http://palingindonesia.com
http://sanggarsr.blogspot.com